30 Juli 2012

Trip Backpacker Kusam ke Sumbawa-Lombok-Bali Part 5 : Keindahan Sunset dan Sunrise di Gili Trawangan

Part 5 : Keindahan Sunset dan Sunrise Gili Trawangan
Pulau yang indah..
Bersih pantainya
Ga ada polusi dan polisi
Yang ada hanya andong, alat transportasi di pulauku
Turis-turis asing pada berdatangan, tuk dapat menikmati surga di dunia…


Ya, lirik lagu dari Richard dGilis inilah yang membuatku ingin datang ke Gili Trawangan. Orang Lombok sendiri menyebut pulau ini Pulau Kebebasan, ada juga yang menyebutnya Pulau Bule karna memang kebanyakan yang berkunjung kesini adalah turis asing (bule). Gili Trawangan sendiri adalah salah satu Gili terbesar (dalam bahasa Lombok gili berarti Pulau) dari deretan tiga gili yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan, semua gili ini berada di wilayah Lombok Barat.
rumah bp.amak karim

23 Juni 2012 perjalananku dan Budi dimulai dari rumah Pak Amak Karim. Dari sini kami bersama Ape dan Tanjung naik mobil pick up ke pasar Anyar dengan ongkos @Rp.15.000,00. Di pasar ini kami menunggu lumayan lama karna elf masih ngetem. Pukul 13.00 mobil elf yang kami tumpangi mulai berjalan. Dari Pasar Anyar kami akan menuju Perempatan Pemenang dengan ongkos @Rp.17.500. perjalanan ke Pemenang ditempuh dalam waktu dua jam menyusuri jalan raya yang berada di tepi pantai, jadi kami tidak merasa bosan selama dalam perjalanan. Pukul 15.00 kami sampai di Perempatan Pemenang, dari sini kami naik andong (orang sini menyebutnya cidomo) ke Pelabuhan Bangsal dengan membayar @Rp.2.500, 00. Awalnya untuk menghemat kami mau jalan kaki dari Pemenang-Bangsal yang letaknya tidak terlalu jauh, tapi karna sudah kesorean kami pun pilih naik andong.
ke Anyar

bangsal

Pelabuhan Bangsal adalah Pelabuhan penyebrangan untuk menuju Gili Trawangan dan Gili lainnya. Tapi selain dari Bangsal, untuk menuju Gili Trawangan juga bisa menyebrang dari Senggigi. Suasana di pelabuhan Bangsal saat itu lumayan rame, banyak penumpang yang akan nyebrang ke Gili Trawangan juga. Kami membeli tiket penyebrangan dengan biaya @Rp.10.000,00. Di sini kami berkenalan dengan 3 orang backpacker dari Jogja yaitu Mas Pupung, Mas Eko dan Dandi yang juga hendak ke Gili Trawangan. Tak lama menunggu, perahu pun segera berangkat.

30 menit menyebrang akhirnya pukul 16.00 kami pun tiba di Gili Trawangan. Suasana di sini ternyata ramai sekali, banyak wisatawan yang berkunjung. Turis asing yang berkunjung kesini lebih banyak daripada wisatawan lokal. Sepanjang jalan di pinggir pantai pulau ini banyak terdapat hotel dan cafe-café. Penginapan murah untuk backpacker pun tersedia di sini, tapi letaknya agak ke dalam, jauh dari pantai. Karena budget yang minim maka kami memilih menginap di tenda kami sendiri, hehe..  di sini juga terdapat banyak tempat penyewaan sepeda dan alat-alat snorkeling. Selain itu banyak agen-agen wisata yang menawarkan kegiatan diving.


Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari tempat untuk melihat sunset. Turun dari perahu kami berjalan ke arah kanan menyusuri jalan di tepi pantai menuju bagian utara pulau ini. Sebenarnya di bagian barat pulau lebih sepi jadi lebih enak untuk dinikmati, tapi karna sudah malas jalan lagi jadi kami berhenti di bagian utara. Dari sini dapat terlihat Gunung Agung yang berada jauh di Pulau Bali sana. Kami menikmati senja dengan duduk-duduk di pantai menunggu sunset. Dan ketika sunset benar-benar tiba, pemandangan sunset yang dihiasi siluet Gunung Agung terlihat begitu indah.


Sunset

Puas menikmati sunset kami mencari tempat camp, di dekat gardu PLN kami membuka tenda, sebab di sini ada tempat terbuka untuk tenda kami. Kami camping bersama teman-teman Jogja yang kami jumpai di pelabuhan Bangsal tadi. Malamnya kami masak untuk makan malam, kami memang tidak ada planning jajan di Pulau ini (ngirit bro, hehe), jadinya kami masak sendiri untuk makan malam. Malam ini kami habiskan dengan duduk-duduk di tepi pantai sambil ngopi dan mendengarkan musik reggae dari mp3 player. Sementara suasana malam di café-café pasti jauh lebih rame, di sana biasanya ada hiburan live musik reggae dan api unggun. Pukul 00.00 aku baru tidur.

24 Juni 2012 aku sudah terbangun dan langsung bikin kopi, seperti dalam lagu Anak Pantai nya Imanez, hehe.. Ketika membuka tenda ternyata pemandangan pagi di sini sangat indah. Fajar pagi dengan warna langitnya yang mempesona ditambah siluet Gunung Rinjani yang terlihat. Dan suara deru ombak juga menambah indahnya harmoni  alam di pagi hari. Sungguh memuaskan melihat pemandangan matahari terbit di Gili Trawangan. Sehabis sarapan pukul 08.00 aku jalan-jalan keliling pulau, butuh dua jam untuk mengelilingi Gili Trawangan dengan jalan kaki. Pukul 10.00 kami packing dan siap-siap meninggalkan pulau.

sunrise


Pukul 11.30 kami meninggalkan Gili Trawangan. Waktu yang singkat di pulau ini cukup untuk memberikan kenangan yang indah dengan pemandangan sunset dan sunrisenya. Dari Gili Trawangan kami kembali ke PMI Selong –Lombok Timur untuk pamitan ke teman-teman di sana sebelum kami melanjutkan petualangan ke Bali. Di PMI kami menginap 1 malam lagi.


Info Transport :
Senaru-Anyar, naek pick up/elf = @Rp.15.000
Anyar-Pemenang, naek elf         = @Rp. 17.500
Pemenang-Pelabuhan Bangsal , naek cidomo = @Rp.2.500
Pelabuhan Bangsal-Gili Trawangan, naek perahu  = @ 10.000
Atau dari Terminal Mandalika (Mataram)-Pemenang naek elf jurusan Anyar turun perempatan Pemenang = @Rp.10.000



25 Juli 2012

Trip Backpacker Kusam Ke Sumbawa-Lombok-Bali Part 4 : Mendaki Rinjani, Puncak Tertinggi Pulau Lombok

Di markas PMI Selong kami memanfaatkan waktu untuk istirahat. Tapi di sela-sela istirahat kami juga sempat maen ke Sekre Oasistala, organisasi Pecinta Alam nya Loker , jalan-jalan di alun-alun dan taman kota Selong yang asri serta pergi ke Pasar tradisional Selong untuk membeli logistik pendakian. Di PMI aku juga sempat mencuci pakaianku yang kotor.  Baru pada senin 18 Juni 2012 setelah sarapan, kami berlima (aku, Budi, Tanjung, Ape, Loker) berangkat dari PMI Selong menuju Pasar Aikmel naik carry dengan ongkos @Rp.6.000,00 . Pukul 07.30 kami sampai di Pasar Aikmel, dari sini naik mobil pick up ke Sembalun dengan ongkos Rp.15.000,00 dan tiba di Pos Perijinan Sembalun pukul 09.30. Kami kemudian turun untuk mendaftar pendakian dengan biaya @Rp.10.000,00. Dari sini kami diantar oleh sopir pick up ke titik awal pendakian kami di Jalur Bawa Naong. Kami tidak mendaki lewat pintu gerbang Sembalun tapi lewat jalur Bawa Naong karna rekomendasi dari Loker kalo jalur ini lebih cepat untuk menghemat waktu dan tenaga. Sembalun sendiri adalah daerah yang cukup indah dikelilingi bukit-bukit Rinjani. Usai menyiapkan perbekalan air kami pun memulai pendakian gunung Rinjani sekitar pukul 10.00.
start jalur bawa naong

trek awal

Jalur pendakian dari sisi timur Rinjani ini memang terkenal dengan medan sabananya yang sangat terbuka. Terik panas matahari tak bisa dihindari, tapi pemandangan Gunung Rinjani yang terlihat indah cukup memberi kami semangat. Setelah 1 jam berjalan kami sampai di pertigaan dekat jembatan, ini adalah pertemuan jalur dari Bawa Naong dan Gerbang Sembalun. Kami melewati beberapa sungai kering dan jembatan sebelum akhirnya tiba di Pos 1 pada pukul 12.00. Pos 1 ini terletak di tempat terbuka dan panas oleh terik matahari, makanya kami hanya istirahat sebentar dan kembali melanjutkan perjalanan setelah dirasa cukup.
jembatan sebelum pos 1

pos 1


Menuju pos 2 jalur masih terbuka melewati perbukitan. Pukul 12.30 kami tiba dipos 2 yang berada di sebelah kiri jembatan. Di bawah jembatan ini adalah sungai kering, tapi masih terdapat beberapa genangan yang menjadi sumber air. Di pos ini kami masak untuk makan siang, baru setelah itu melanjutkan perjalanan lagi. setelah pos 2 ini jalur sedikit menanjak, sebelum sampai di Pos 3 kami terlebih dahulu melewati pos extra. Di dekat sinilah terdapat sumber air berupa genangan. Pukul 15.15 kami tiba di Pos 3 dan memutuskan untuk camp di sini malam ini. Pos 3 ini berada tepat di samping sebuah sungai kering. Setelah buka tenda kami langsung mulai acara masak-masak, hehe..Kali ini menu makan malam telor dadar, mie goreng dan ditambah rendang sapi yang dibawa teman-teman Padang. Sekitar pukul 22.00 kami mulai beranjak tidur.
pos 2

camp d pos 3

19 Juni 2012 pukul 06.30 kami bangun, pemandangan pagi lumayan indah dari Pos 3. Langit biru, cahaya matahari sedikit tertutup bukit, bahkan suara lolongan anjing hutan yang terdengar seperti suara srigala pun turut menyambut pagi. Habis sarapan dan packing, pukul 09.00 kami start dari Pos 3 menuju pelawangan Sembalun. Medannya berupa tanjakan-tanjakan yang berbukit. Butuh sekitar 4 jam untuk kami sampai di Pelawangan Sembalun. Pukul 13.00 kami sampai dan langsung disambut gerimis. Tenda kami buka, setelah gerimis reda kami segera mengambil air, tempatnya turun ke arah kiri dari jalur pendakian. Kegiatan sore itu hanya masak lalu makan malam. Dan kami baru tidur pukul 21.30


plawangan sembalun
20 Juni 2012 pukul 01.30 alarmku berbunyi, aku pun segera bangun dan siap-siap untuk summit attack. Setelah makan sedikit roti dan minum susu hangat, pukul 03.00 kami pun berangkat untuk naik ke Puncak. Keadaan masih berkabut sehingga kami harus extra hati-hati karena medan yang kami lewati adalah sebuah punggungan sementara di kanan-kiri adalah jurang. Trek di jalur ini berupa pasir dan kerikil-kerikil, semakin ke atas medan terus menanjak. Banyak pendaki lain yang mendahului kami, mereka semua adalah turis asing yang didampingi guide lokal, tampaknya kali ini hanya kami pendaki asli Indonesia.  Setelah hampir 4 jam mendaki, akhirnya kami sampai di Puncak Gunung Rinjani pada pukul 07.00. Ini adalah tanah tertinggi di Pulau Lombok dengan ketinggian 3726 Mdpl.

Matahari tertutup awan, tapi pemandangan Segara Anak  terlihat sangat indah dengan airnya yang tenang dan berwarna hijau, membuat kami takjub. Di sisi timur danau terdapat gunung Barujari masih aktif. Di kejauhan juga terlihat lautan dan Gili-Gili yang berjejer, yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili Terawangan. Gunung Agung di sebelah barat juga terlihat dari Puncak Rinjani ini. Sementara di sebelah timur terlihat Gunung Tambora.  Sungguh indah pemandangan alam ciptaan Tuhan ini. Rinjani memang memiliki daya tarik yang sangat besar bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Lombok.  Bahkan kebanyakan yang mendaki Rinjani adalah turis asing, seperti saat pendakian kami kali ini yang didominasi pendaki asing.
danau segara anak

aku d puncak rinjani


Pukul 07.30 kami turun dari Puncak dan sampai di Pelawangan Sembalun pukul 09.00 kemudian langsung masak untuk sarapan. Oh iya, satu hal yang harus diperhatikan di Pelawangan Sembalun adalah kita harus hati-hati dengan monyet-monyet di sini, apalagi kalo mereka mencium bau makanan pasti langsung mendekat.  Usai sarapan dan packing pukul 11.30 kami turun ke Segara Anak, tapi kali ini Loker tidak ikut bersama kami, dia turun kembali lewat jalur Sembalun sementara kami berempat turun ke Segara Anak. Medan turun menuju Segara Anak cukup curam, trek berupa bebatuan. Suasana saat itu masih berkabut. Butuh sekitar 2,5 jam untuk sampai di Segara Anak. Pukul 14.00 kami sampai di tepian Segara Anak dan langsung disambut hujan. Kami langsung membuka flyset  untuk berteduh sementara waktu sembari menunggu reda. Pukul 16.30 kami baru membuka tenda, sudah banyak tenda-tenda lain  yang berada di sini dari kemarin. Di sini kami bertemu pendaki  dari Jakarta, Malang, Semarang dan ada juga dari Solo. Aku senang bertemu pendaki dari Negara sendiri karna selama perjalanan  naik yang kami temui kebanyakan turis asing. Sore di Segara Anak masih berselimut kabut. Kami hanya duduk-duduk di dalam tenda sambil masak untuk makan malam. Setelah makan dan puas ngobrol dengan teman-teman, pukul 23.00 aku baru tidur.
camp d tepi danau segara anak


21 Juni 2012 pukul 05.30  aku sudah bangun. Pukul 06.00 aku mengajak Budi untuk mengambil air ke sumber air yang berjarak tempuh sekitar 10 menit dari camp kami. Kami harus menyebrang untuk mencapai sumber air ini.  Kami harus berhati-hati ketika berjalan di setapak sekitar sungai karena banyak ranjau alias kotoran.  Setelah mengambil air kami mampir ke sumber air panas yang letaknya di pinggir sungai dan di sebelah air terjun. Aku dan Budi pun langsung berendam di sini, lumayan untuk membersihkan badan kami yang sudah berhari-hari tidak mandi. Berendam di kolam air hangat  di sebelah air terjun di tengah alam terbuka sungguh pengalaman yang indah. Pukul 08.00 kami kembali ke tenda dan jam 10.00 mulai masak untuk makan siang. Pukul 13.00 selesai makan kami jalan-jalan ke Goa Susu, tempatnya lumayan jauh, sekitar 30 menit dari Segara Anak. Goa Susu juga merupakan salah satu sumber air panas di Gunung Rinjani ini. Banyak kolam-kolam untuk berendam dengan kadar panas berbeda-beda. Pukul 14.30 kami sudah kembali ke camp di Segara Anak. Kami iseng-iseng mancing dan dapet 3 ekor ikan kecil. Ikan di danau Segara Anak ini memang sangat melimpah, banyak pendaki ataupun penduduk lokal yang sengaja datang untuk memancing. 3 ekor ikan tadi aku bakar untuk makan malam, lumayan untuk lauk, hehe..  Satu hari penuh kami menikmati keindahan Segara Anak dan sekitarnya.
mancing

mandi d kolam air hangat

goa susu

dapat ikan

bakar-bakar

22 Juni 2012 pukul 03.30 aku sudah bangun dan masak nasi goreng plus telor dadar. Pukul 05.00 aku bangunkan Budi untuk sarapan. Pukul 07.00 kami memulai perjalanan turun lewat jalur Senaru.  Pertama kami harus menyebrang sungai, terus melipir di tepian danau. Kemudian trek mulai dengan tanjakan-tanjakan yang melelahkan menuju Pelawangan Senaru hingga akhirnya tiba pukul 09.30 setelah melewati medan tanjakan. Di sini adalah tempat terakhir dimana kami bisa melihat pemandangan danau Segara Anak yang indah. Setelah Pelawangan Senaru medan mulai menurun, kemudian kami sampai di Pos cemara lima. Trek terus menurun, baru setelah pos 3 kami masuk daerah hutan yang cukup rimbun. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan turis asing yang akan mendaki Rinjani. Akhirnya kami tiba di Pos Senaru pukul 14.00 terus jalan kaki turun dari Pos Senaru melewati jalan aspal menuju tempat wisata air terjun Sendang Gila. Kami masuk tempat wisata ini dengan retribusi @Rp.5.000,00. Debit air terjun ini sangat deras sampai aku tak kuat berdiri lama di bawahnya. Gunung Rinjani sungguh menawarkan berbagai pesona alam yang menarik.

dlihat dr plawangan senaru

sindang gila


Sepulang dari air terjun Sendang Gila kami berjalan turun ke rumah Bapak Amak Karim, beliau adalah salah satu guide dan porter  di Rinjani. Kami menginap di rumahnya atas rekomendasi  Bang Abdul, seorang guide juga, kenalan Ape dan Tanjung saat turun dari Segara Anak ke Senaru. Keluarga Bapak Amak Karim sangat ramah, di sini kami dijamu dengan makanan khas Lombok. Alhamdulillah, selama dalam perjalanan kami selalu bertemu dengan orang-orang yang baik. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka dengan berlipat ganda.
Loker Alfonso + aku 

teman dr malang+semarang

APe-Budi-Bp.Amak karim-aku-Tanjung-Ibu d belakang

Ucapan terimakasih :
Tuhan YME
Teman-teman perjalanan : Budi, Ape, Tanjung
Teman-teman PMI Selong Lombok Timur
Teman-teman Oasistala
Teman-teman dari Malang, Jakarta, Semarang, dll. yang bertemu kami di Segara Anak
Bang Abdul dan Bapak Amak Karim

Next part : Gili Terawangan



Trip Backpacker Kusam ke Sumbawa-Lombok-Bali Part 3 : Perjalanan dari Pancasila ke Lombok

14 Juni 2012 siang itu setelah istirahat di rumah Om Bek, kami mencari ojek untuk turun ke Calabai. Ongkos ojek kesana @Rp.15.000,00, jarak Desa Pancasila-Calabai sekitar 15 km. Pukul 14.45 kami sampai di Calabai, sudah tidak ada bis untuk melanjutkan perjalanan, karna di sini bis hanya ada dua kali dalam sehari di jam tertentu. Akhirnya aku dan Budi mengambil keputusan untuk menginap di tempat agen bis jurusan Calabai-Mataram. Kami memilih bis jurusan Mataram langsung karna kami tidak perlu ke Dompu lagi, jadi bisa lebih hemat biaya dan waktu perjalanan.  Dua orang teman dari Padang ikut bersama kami, jadi sekarang kami berempat, aku, Budi, Ape dan Tanjung. Sedangkan teman-teman dari Bima memutuskan melanjutkan perjalanan dengan mencari tumpangan truk. Malamnya kami menginap di musola pribadi yang letaknya di samping rumah pemilik agen bis. Kami sempat ngobrol dengan ibu pemilik rumah itu, beliau cerita bahwa tak jauh dari Calabai ada sebuah Pulau yang indah, namanya Pulau Satonda.  Sayang kami tak bisa kesana karena budget yang minim. Semoga lain waktu bisa kesana..
mushola pemilik agen bus

makan malam
Kami makan malam di warung sekitar pasar dengan harga @Rp.10.000, agak mahal memang bagi backpacker kere, tapi dengan sedikit rayuan oleh Ape dan Tanjung, kami pun diijinkan nambah nasi dan lauk sepuasnya, hehe…lumayan. Sehabis makan kami pun tidur lebih awal, karna bis biasanya berangkat pagi, jadi kami takut kesiangan dan ketinggalan bis.

Jumat, 15 Juni 2012 pukul 06.00 WITA kami sudah bangun dan masak buat sarapan. Setelah itu kami buru-buru packing dan mandi. Pukul 09.00 kami sudah bersiap untuk menunggu bis, tapi kata kondekturnya bis akan berangkat seusai salat Jumat. Kami awalnya mengira bis akan bernagkat pagi-pagi seperti biasa, ternyata tidak karna ini hari jumat. Kami malah ga sadar kalo ini hari jumat, hehe.. tapi ini adalah sebuah contoh yang baik dari daerah ini, kalo di daerahku sopir bis mungkin gak begitu peduli dengan waktu salat Jumat. Akhirnya kami pun kembali istirahat di mushola sambil nunggu waktu salat.

Begitu waktu salat tiba kami salat Jumat di masjid dekat Pasar Calabai. Setelah selesai, kami siap-siap untuk naik bis yang berangkat pukul 14.00. ongkos bis dari Calabai ke Mataram @Rp.115.000,00. Perjalanannya sendiri akan memakan waktu yang sangat panjang. Bis ¾ ini penuh sesak dengan panumpang dan barang-barangnya. Barang apapun bisa diangkut oleh bis ini, bahkan bis ini pun mau menjemput penumpang sampai di depan rumah. Ada kejadian yang sempat membuat terharu ketika bis ini menjemput penumpang di rumahnya ke dalam desa. Yang mau naik bis ini cuma satu keluarga, tapi yang mengantar hampir satu desa. Banyak diantara mereka yang menangis melepas kebrangkatan keluarga tersebut, mungkin keluarga itu hendak merantau.
bis calabai-mataram

Pos Polisi Doropeti
Perjalanan pun dilanjutkan. Padang rumput yang seperti di Afrika kembali kami lewati dengan pemandangan hewan-hewan yang tengah merumput dan berlarian dengan bebasnya. Sayang aku ga sempat ambil foto karna bis terus melaju dengan cepat. Hanya mata dan kepalaku yang merekam dan menyimpannya dalam memori, tersimpan sebagai kenangan mengesankan yang pernah kujumpai di sini. Di tengah perjalanan bis kami sempat berhenti untuk ganti ban di depan Pos Polisi Doropeti, di sini kami melihat bendera merah putih Indonesia yang sudah tinggal setengah karena robek tapi tetap berkibar dengan gagahnya menantang angin. Aku sempat mengambil foto bendera tersebut dengan sembunyi-sembunyi, takut menyinggung perasaan polisi-polisi di sana. Bis pun melaju kembali setelah selesai ganti ban. Penumpang bis ini orangnya ramah-ramah, contohnya kami dikasih buah pisang yang besar-besar, lumayan dapet rezeki buat ganjel perut, hehe..
 

Sekitar pukul 18.00 bis sampai di sebuah persimpangan antara arah ke Dompu dan ke Mataram. Di sini bis berhenti untuk memberi waktu bagi penumpang yang ingin makan, karna bis tidak akan berhenti lagi setelah ini. Aku dan teman-temanku sendiri turut makan di salah satu warung. Aku sempat ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung. Dia cerita kalo warung di sebelahnya punya orang Solo. Aku pun dikenalkan ke pemiliknya, orangnya ramah. Aku sempat nyesel kenapa tadi ga makan disitu aja, mungkin bisa gratis karna sama-sama orang Solo dan ketemu di tempat yang jauh dari kampung, hehehe..

PMI Selong-Lombok Timur
Bis kembali melanjutkan perjalanan melintasi Pulau Sumbawa. Sekitar dini hari bis sampai di pelabuhan untuk menyebrang ke Pulau Lombok. Di Pelabuhan ini bis sempat mengantri cukup lama untuk menyebrang, sampai akhirnya sekitar subuh bis baru sampai di Pulau Lombok setelah menyebrang Selat Alas selama 2 jam.  Setelah hampir 15 jam perjalanan dari Calabai, akhirnya sekitar pukul 06.00 kami tiba di Masbagik (Lombok Timur). Dari Masbagik kami naek angkot jurusan Selong menuju markas PMI Selong-Lombok Timur dengan ongkos @Rp.5.000, 00. 16 Juni 2012 pukul 07.00 kami sampai di Markas PMI Selong. Kami disambut Bang Samsul dan teman-temannya, kebetulan Ape dan Tanjung sudah kenal dengan mereka. Kami pun diajak sarapan bersama teman-teman PMI. Rencananya kami akan menginap di sini dan berangkat ke Rinjani hari senin bersama teman dari PMI yang bernama Loker, jadi kami akan menginap dua malam di PMI sebelum berangkat ke Rinjani.

Trip Backpacker Kusam ke Sumbawa-Lombok-Bali Part 2 : Menjelajah Rimba Tambora

Senin, 11 Juni 2012 pukul 06.00 WITA kami bangun dari tidur yang cuma sekitar 3 jam. Pagi itu kami sempat pergi ke Pasar Besar Dompu membeli logistik untuk pendakian Gunung Tambora. Pulang dari pasar kami mampir ke warung soto dekat Gedung Pemuda untuk packing. Di sini kami sempat ditemui oleh Bang Ade dari Humpa (salah satu organisasi Pecinta Alam di Dompu). Bang Ade memberi kami informasi tentang Tambora.

Pukul 11.30 kami meninggalkan Gedung Pemuda, dari sana kami naek angkot warna kuning menuju Terminal Dompu dengan ongkos @Rp.5.000,00. Pukul 12.30 kami sampai di terminal, di sini kami bertemu dengan rombongan pendaki dari Bima (NTB) dan Padang (Sumbar). Kami pun gabung dengan mereka untuk menunggu bis.  Baru sekitar pukul 15.00 bis jurusan Calabai siap berangkat, bis inilah yang akan mengantar kami ke Desa Pancasila dengan ongkos Rp.30.000, 00. Bisnya sudah penuh dengan muatan penumpang dan barang, sehingga kami pun harus duduk  di bagian atas bis. Ternyata hal ini sudah biasa di sini. Belum lama berjalan, di sebuah pertigaan  bis yang kami tumpangi  ini bertabrakan dengan angkot.  Alhamdulilah ga terjadi apa-apa, hanya saja bis sempat berhenti. Setelah berhenti cukup lama akhirnya bis melanjutkan perjalanannya pukul 16.00.

bis dari Dompu-Pancasila
Perjalanan menuju Desa Pancasila sangatlah jauh. Jalannya naek turun melewati perbukitan, sebagian jalan sudah diaspal tapi kebanyakan masih jalan tanah dan batu yang sangat berdebu. Tetapi pemandangan sepanjang perjalanan ini cukup indah, di sebelah kiri kami disuguhi lautan yang biru, sementara di sebelah kanan terlihat Gunung Tambora. Bahkan kami juga melewati sebuah padang rumput yang luas, di sini banyak ternak penduduk seperti sapi, kerbau dan kuda yang dibiarkan merumput secara liar. Aku sempat berpikir tempat ini sama seperti Afrika, hehe… Setelah hampir 5 jam perjalanan kami pun sampai di di Desa Pancasila sekitar pukul 21.30 . Kami diturunkan di depan basecamp K-PATA, di sini kami melapor ke Bang Ipul,pengurus basecamp.

Di Gunung Tambora pendaki yang belum pernah mendaki di sini diwajibkan untuk didampingi guide. Aku dan Budi beruntung karna bergabung bersama teman-teman Londa dari Bima yang sudah pernah mendaki Tambora, sehingga kami tidak perlu mencari guide. Malam itu kami langsung melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, karna Desa Pancasila adalah titik awal pendakian. Setelah sekitar 1 jam berjalan melewati perkebunan kopi, kami sampai di sebuah rumah pondokan pekerja perkebunan kopi ini. Teman-teman dari Bima sudah kenal dengan pemilik rumah jadi kami diijinkan menginap. Usai beristirahat sebentar  kami masak untuk makan malam bersama. Baru sekitar pukul 00.00 kami tidur. Hari yang melelahkan dalam perjalanan menuju kaki Tambora. 
siap2 naek tambora

12 Juni 2012 pukul 06.30 kami baru bangun. Kegiatan pagi itu : cuci muka, gosok gigi, masak, sarapan, packing. Pukul 09.00 kami baru start naek dari rumah pondokan melewati perkebunan kopi. Jalanan masih lebar, baru setelah masuk hutan jalan mulai rapat. Hutan Tambora memang masih cukup rimbun dengan pohon-pohon yang besar. Di jalur menuju pos 1 ini kami melewati pipa air. Setelah hampir 2 jam berjalan, pukul 11.00 kami tiba di Pos 1. Di sebelah kiri pos ini ada sumber air dari pipa yang ditampung sebuah bak. Setelah istirahat sebentar dan mengisi bekal air minum kami pun melanjutkan perjalanan pada pukul 11.30. Hutan di jalur menuju Pos 2 semakin rapat, kami harus sering merunduk untuk menghindari ranting-ranting pohon. Jalannya naek turun tidak terlalu menanjak, kebanyakan landai. Baru setelah turunan yang curam kami sampai di Pos 2 sekitar pukul 13.30. Ada sebuah shelter bivak dengan atap dari seng di sini. Di depan pos ini ada sungai sebagai sumber air. Kami istirahat cukup lama di sini untuk makan snack siang kami. Baru sekitar pukul 14.15 kami melanjutkan perjalanan.


pos 1
pos 2
Setelah melewati sungai, jalur mulai menanjak dan terjal. Menuju pos 3 ini kami melewati perbatasan antara hutan tropis dan hutan cemara gunung. Hampir dua jam berjalan melewati jalur yang naek-turun kami pun tiba di Pos 3 sekitar pukul 16.30. Di Pos ini ada sebuah shelter dari kayu yang masih bagus. Di pos 3 ini juga ada sumber air, tapi jaraknya lumayan jauh, kami harus turun ke kanan dari depan pos ini sekitar 15 menit. Kami memutuskan camp di Pos 3 sore itu dan akan melanjutkan perjalanan ke Puncak pada tengah malam. Selesai makan malam teman-teman yang lain beranjak tidur, sementara aku dan Budi tidak bisa tidur. Sampai sekitar pupuk 23.00 setelah packing kami melanjutkan perjalanan. Tenda kami tinggal dan hanya membawa daypack untuk snack dan air minum. 
pos 3

ngecamp d pos 3

Jalur menuju Pos 4 tidak terlalu menanjak, tapi di sini kami harus hati-hati dengan tumbuhan penyengat/jelatang yang tumbuh di sepanjang lintasan. Setelah 1 jam berjalan kami tiba di Pos 4 kemudian melanjutkan perjalanan.  Mendekati Pos 5 tanaman jelatang mulai berkurang. Kira-kira pukul 01.00 WITA  tanggal 13 Juni 2012 kami sampai di Pos 5. Di sebelah kanan pos ini juga terdapat sumber air. Malam itu dari Pos 5 terdengar suara gemuruh angin di atas, sepertinya di atas sedang terjadi badai. Akhirnya kami putuskan istirahat di Pos 5 sambil menunggu pagi. Semalaman aku ga bisa tidur, hanya duduk-duduk di dekat api unggun sampai pagi.
pos 5

Pukul 06.00 kami melanjutkan pendakian dari Pos 5. Langit sudah mulai terang, pemandangan Gunung Rinjani di kejauhan terlihat indah. Di bawah juga terlihat lautan dan Pulau Satonda.  1.5 jam kami berjalan akhirnya kami tiba di batas vegetasi, hanya ada beberapa pohon cemara di sini. Angin masih berhembus sangat kencang, bahkan sesekali kami harus merunduk karna angin terlalu kencang. Selepas batas vegetasi medan mulai semakin curam, trek pasir dan bebatuan terus menanjak. Tapi mendekati bibir Tambora jalur mulai landai. Kami hanya finish sampai di bibir kawah sekitar pukul 09.00 karena angin masih sangat kencang dan menerbangkan pasir mengenai mata kami, makanya kami tidak meneruskan perjalanan ke Puncak. Kami berdecak  kagum melihat kawah Tambora yang sangat besar dan luas. Kami tak bisa membayangkan betapa dahsyatnya  letusan Tambora yang bersejarah itu, Allohuakbar… 
trek stelah batas vegetasi

rame-rame

aku

kawah gn.tambora

Usai melihat kawah dan foto-foto kami pun turun kembali.  Pukul 13.00 kami sampai di tempat camp Pos 3. Sehabis makan siang dan packing, pukul 15.00 kami memulai perjalanan turun. Seperti pada saat perjalanan naik, kami pun harus sering merunduk untuk menghindari ranting.  Perjalanan turun memakan waktu yang cukup lama karena salah satu teman kami kakinya sakit. Pukul 21.30 kami akhirnya sampai di rumah pondokan perkebunan kopi.  Seusai istirahat,makan malam dan mandi kami semua tidur pulas malam itu karna kecapean.

14 Juni 2012 pukul 07.00 WITA aku baru bangun. Teman-teman yang lain bahkan baru bangun pukul 09.00. Sehabis sarapan, pukul 10.00 aku mulai packing tapi baru sekitar pukul 12.00 kami mulai jalan untuk turun ke Desa Pancasila. Setelah melewati perkebunan kopi pukul 13.30 kami sampai di Desa Pancasila dan mampir dulu di rumah Om Bek. Beliau adalah salah satu tokoh pendaki di desa itu. Sepertinya Om Bek ini memiliki indra keenam, sebab beliau tau kejadian-kejadian yang kami alami selama di Gunung Tambora. Contohnya, beliau menebak kalau salah satu dari kami ada yang bermimpi bertemu seorang wanita di Pos 5. Ternyata yang dimaksud Om Bek benar. Salah satu teman, yaitu Tanjung bercerita bahwa sewaktu di Pos 5 dia memang bermimpi ketemu seorang wanita, dan wanita itu berkata padanya bahwa jika kami melanjutkan perjalanan ke Puncak, maka akan ada salah satu dari kami yang jatuh ke kawah. Aku kaget mendengar cerita itu, antara percaya dan tidak. Tapi mungkin ada hikmah dari keputusan kami saat itu untuk tidak lanjut ke Puncak. Hanya Tuhan yang tahu. Tambora memang menyimpan berbagai misteri. 
aku-Chamen-Bhecex-Budi-Ape-Ozie-Tanjung

Ucapan terimakasih untuk Allah SWT. Untuk Budi, teman perjalanan yang nyantai. Teman-teman dari Bima : Bhone, Chamen, Ozie, Bhecek, Ringgo. Teman dari Padang : Ape dan Tanjung.