10 Februari 2016

Di Bawah Gerimis Kota

Kemarin sesorean dan semalaman bersepeda di kota Solo, tepatnya di sekitaran Pasar Gede.
Kembali melihat potret-potret kehidupan itu. Dan bagiku itu sebuah pertanda yang cukup untuk meyakinkanku sudah waktunya aku membagikan puisi ini, cerita ini.
Biarlah kata-kata sederhana ini berkelana di semestaNya.


Di Bawah Gerimis Kota

Lagi kudapati di bawah gerimis
Bunga-bunga kehidupan yang masih bertahan
Tumbuh di sela-sela hedonisme kota
Terbaring sepi berselimut lapar
Perutnya berbicara tentang syukur tak terkira
Menerima takdir dengan gagah menjalaninya
Rumah bukan lagi soal kenyamanan
Sejengkal emper berteduh pun jadi ranjang semalaman
Lusuh tubuh tak perlu kau pertanyakan
Mereka masih mempunyai berlian
Keberanian untuk tetap menghela napas kehidupan
Walau satu per satu hari menyiksa tiada henti
Napas demi napas tetap mereka jalani
Apa yang akan mereka impikan malam ini?
Apakah tentang hidangan lezat jamuan pesta di surga?
Apakah tentang ranjang-ranjang empuk berselimut sutera?
Ataukah tentang sungai-sungai susu yang bisa direguk setiap waktu?
Atau mungkin mereka hanya memimpikan udara segar esok pagi
dan pikiran tenang menjalani lusa nanti?
Entahlah
Sementara kita masih memimpikan hari-hari yang penuh ambisi


SB

01.00
09/Jan/2016

9 Februari 2016

Sungai dan Batu

foto:yudibelexs

Sungai dan Batu

Aku ingin tetap menjadi sungai
yang digariskan mencintai batu
Sekeras apapun tubuhmu
dan seteguh apapun diammu
Untuk tetap menjadi batu mensyukuri penciptamu


Aku akan tetap menjadi sungai
yang ditakdirkan mencintai batu
Terus berusaha melembutkanmu dengan arusku
Melunakkanmu dengan riakku
Sekeras apapun sebuah batu
yang menguji kesabaran sang air


Aku akan selalu menjadi sungai
yang tak henti mencintai batu
Sampai aliranku membawamu hanyut bersama pasir
dan menyatu mengalir bersamaku
Mengarungi alur demi alur diriku
dalam sungai cintaku




SB
05/Feb/2016

7 Februari 2016

Burung-Burung Tersesat di Kabel Kota

foto:google
Burung-Burung Tersesat Di Kabel Kota

Malam tak lagi gelap
Sebab terang bertahta atas kota
Di sebuah sudutnya kutemui jiwa-jiwa tersesat
Ratusan jiwa beristirahat dalam lelahnya


Mereka kehilangan rumahnya
Atau mungkin mereka sengaja berurban ke kota
Terangsang oleh cahaya-cahaya peradaban
Berterbangan mengitari langit-langit perkotaan
Kabel jalanan menjadi sarang
Untuk merebahkan ketersesatan


Sementara kita manusia
Tak rela kota kita dikotori oleh kotoran mereka
Sementara kita manusia
Tak sadar mungkin kita yang merusak rumah belantara jiwa mereka
Sementara kita manusia
Seolah berhak atas semesta


Jiwa-jiwa tertidur berjejeran
Pada kabel lampu jalan di sudut kota



SB
Desember, 2015

(Puisi ini ikut diterbitkan dalam buku antologi puisi yang berjudul Belukar yang Membara oleh Stepa Pustaka) 


6 Februari 2016

Doa di Tepi Jalan

foto:stepapustaka

Doa di Tepi Jalan

Di tepi jalan di bawah tiang listrik
Laju kendaraan bising merampas hening
Sosok diam bersila bersandar hampa
Menatap jauh pada kekosongan
Noda di wajah adalah cinta matahari padanya
Gimbal rambut adalah kasih debu jalanan untuknya
Kerak gigi dan bau mulutnya adalah pergumulan udara setiap hari


Tangan tengadah pada langit
Apa yang kau gumamkan ?
Apakah kau bersyukur atas diangkatnya kesadaran?
Apakah kau bahagia atas dicabutnya keinginan-keinginan?
Mulutmu tergetar seolah ingin berkata-kata
Namun tak ada suara yang keluar terdengar
Hanya doa dalam diam
Di antara sunyi yang terampas oleh kebisingan
Kau dibebaskan dari hasrat keduniawian


Di tepi jalan kau seolah tak terlihat oleh mata 
Mata-mata perlahan kehilangan empatinya
Sementara doa-doamu tetap mengalir dalam diam
Di antara kegilaan dan kewarasan




SB
03/Jan/2016


(puisi ini ikut diterbitkan dalam buku antologi puisi yang berjudul Belukar yang Membara oleh penerbit Stepa Pustaka)

5 Februari 2016

Dimana Jalan Kembali

gambar:stepapustaka
Dimana Jalan Kembali

Di dalam lubuk sunyi
Aku masih mencari-cari diriMu
Diantara luka yang tercecer
Langkahku mencari jalan meniti tepian waktu
Meninggalkan jejak dosa dari jiwa yang bernama manusia


Kemunafikan sempat terarungi oleh perahu
Didayung oleh muslihat yang diberi nama cinta
Pada hirupan napas raga kala terjaga
Menipu hidup di bayangan kemesraan


Tangan beradu tenang dengan hati
Batin menopang perlahan, lelah berlutut kelam
Beri aku sajak-sajakMu
yang  mampu membawaku kembali ke pelukMu
Kembali, kembali yang kuinginkan
Jalan kembali di balik semak keheningan




SB
Desember,2015


(puisi ini ikut diterbitkan dalam buku antologi puisi yang berjudul Belukar yang Membara oleh penerbit Stepa Pustaka)

3 Februari 2016

Sebait Hujan

gambar:sidiqbachtiar


Sebait Hujan

/1/
Berbasuh aksara
di riciknya
Bermandi kata
di guyurannya
Bergelimang makna
di semestanya


/2/
Pagi menyisakan gerimis malam tadi
Di ujung dedaunan embun bersemedi
Jika aku matahari
Rindukah kau pada terik hari?


/3/
Merindu hening malam
Berpeluh dahulu pada siang
Merindukan hujan 
Cintailah dulu gelap awan


/4/
Hujan menyiram luka
Di sekujur tubuh rindu
Mengalirkan kesenduan
Pada kuyup mata perempuan


/5/
Di sunyi reda hujan
Tetes air mengkristal pada kaca jendela
Ditatapnya penuh takzim dari dalam kamar
Kenangan mencair perlahan di pipinya




SB
01/Feb/2016

1 Februari 2016

Sajak Perlawanan

gambar:survive(taring padi-jogja)


Sajak Perlawanan

Di antara gemuruh langkah kaki
Tangan-tangan terkepal meneriakkan pemberontakan
Tak ada perbedaan dalam kerumunan
Semua bersatu mendendangkan nyanyian yang sama
Nyanyian penolakan
Nyanyian kepedulian terhadap alam
Nyanyian melawan keserakahan


Jiwa-jiwa pemberani berkumpul di bawah matahari
Menantang kerakusan manusia pada bumi
Jika laut ingin kau jadikan daratan
demi menghasilkan uang untukmu segolongan
Tidurmu akan kami buat tak nyenyak sepanjang zaman
Akan terus kami tanam akar-akar pemberontakan
sampai pada jiwa generasi-generasi mendatang
untuk melawan segala bentuk kerakusan


Jiwa-jiwa pemberani terus maju galakkan aksi
Menolak reklamasi tanpa henti
Laut adalah ladang rezeki bagi kami
Kaum pribumi yang hidup di tengah modernisasi
Sedang kalian ingin menjajah tanah kami demi rekreasi
kaum kapitalis yang mengumbar keserakahan duniawi


Bagi para pecundang 
Mungkin aksara tak lagi setajam belati
Dan kata-kata tak mampu lagi melukai
Tapi bagi jiwa-jiwa pemberani
Aksara akan terus diasah menjadi pedang
Kata-kata terus dirangkai sebagai senjata
menjadi alat pemberontakan


Impian kami hanya sederhana
Biarlah hutan tetap menjadi hutan
Biarlah sungai tetap menjadi sungai
Biarlah laut tetap menjadi laut
Biarlah manusia tetap menjadi manusia
Bukan penguasa alam semesta




SB
01/Feb/2016