18 Mei 2016

Sajak Buruh (Ruang Waktu)



Ruang waktu kami adalah tetes keringat
yang bercampur cat dan amoniak
dan juga aroma tembakau yang menyengat
yang menempel di tubuh kami
terbawa lelah sampai ke rumah

Ruang waktu kami adalah rutinitas monoton
memproduksi barang mempertebal kantong kapital
menghabiskan jam demi jam hari-hari kami
memenuhi hajat hidup masa kini
sampai lupa sisi manusiawi

Ruang waktu kami adalah deru mesin yang tak henti
di pengap dan panasnya pabrik-pabrik
pagi siang malam terus berputar
kepenatan sudah menjadi kawan
menemani detik demi detik pertukaran tenaga dan uang

Sebagian kecil ruang dan waktu kami adalah kemerdekaan
Sebagian kami adalah buruh yang tak ingin mati nurani
Kaum buruh juga mempunyai hak untuk membaca buku
Agar hidup tak melulu soal perut
Agar kami bisa belajar mengasah pribadi
dan tak kehilangan jiwa manusiawi
karena setiap hari digerus ambisi duniawi

Membaca buku adalah sebagian ruang dan waktu kami
untuk belajar menyelami diri menjadi manusia
bukan sekedar robot bernyawa
jika pemerintah tak menyediakan buku bacaan untuk kaum kami
kami sendiri yang akan menciptakan ruang-ruang baca
untuk kami dan generasi-generasi setelah kami
agar anak-cucu kami memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas
dan memiliki hidup yang lebih baik dari kami
agar generasi setelah kami menemukan jalan
dengan cahaya yang benderang

SB
18/05/2016

1 komentar:

  1. Izin share dengan dicantumkan nama mas sidiq, tempat, dan tanggal.posting ?

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung. Mari budayakan berkomentar :)