6 Juni 2015

Mereka Mulai Bersepeda

Siapa mereka ?? Mereka adalah adik-adikku. Di rumah memang ada beberapa sepeda, ya walaupun sepeda butut tapi masih bisa dipakai. Aku sendiri sudah jarang bersepeda. Paling hanya sesekali kalau ke warung atau ke masjid. Bersepeda ke tempat kerja ? sepertinya fisikku sudah kurang kuat :). Maklum, pekerjaanku juga menguras tenaga, lumayan melelahkan. Jadi untuk menjaga kondisi badan, aku memilih aman untuk menggunakan motor agar tidak terlalu capek.
Kembali ke mereka. Kini sepeda-sepeda di rumah yang sudah lumayan lama menganggur digunakan oleh mereka. Azis, Zaenal, dan Aldi kini mulai bersepeda.
sepedaku

Azis, 21 tahun. Dia tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang universitas. Setelah lulus dari SMK dia beberapa kali berganti pekerjaan. Pernah bekerja di tempat yang tak jauh dari rumah. Tapi dia juga pernah bekerja di luar kota. Kini dia mendapatkan sebuah pekerjaan di sebuah pabrik rokok yang tak jauh dari rumah. Sebagai pekerja pabrik dia harus berangkat pagi-pagi sekali. Mungkin baru sekitar tiga bulan ini dia bekerja disana. Dia selalu memakai motornya, walau sebenarnya jarak dari rumah ke pabrik hanya dekat, mungkin cuma sekitar 3km. Tapi karena kebiasaannya bangun kesiangan,dia harus buru-buru berangkat dengan motor. Baru semingguan ini aku melihat Azis mengeluarkan sepeda. Ban sepeda yang kempes karena jarang dipakai dia pompa. Lalu berangkat pagi-pagi dengan mengayuh sepeda. Jarak dekat yang dia tempuh mungkin tidak akan membuatnya lelah. Karena sebenarnya dulu dia sering ikut bersepeda bersamaku. Kami pernah bersepeda bersama ke Gunung Kidul dan ke Yogyakarta. Jadi, dia sudah terbiasa bersepeda.
Azis(paling kiri pake helm) waktu ikut gowes ke Jogja

Zaenal, dia adikku yang kedua. Umurnya 11 tahun, kelas 5 SD. Dia baru bisa benar-benar naik sepeda waktu kelas 4. Sebelum itu dia tidak berani naik sepeda. Ketika Azis mendapatkan dorprize sebuah sepeda dari acara sepeda santai. Sepeda itu jarang dipakai oleh Azis, jadi beralih dipakai oleh Zaenal untuk belajar bersepeda. Sejak saat itulah sepeda itu terus dipakai Zaenal untuk ke sekolah yang jaraknya juga tidak jauh dari rumah. Sekarang dia juga sering bersepeda bersama teman-teman mainnya. Sekedar bersepeda sore-sore atau bekeliling-keliling desa.
Zaenal(kanan :) )

Nama lengkapnya Rahmad Aldiansyah Latif. Kami memanggilnya Aldi, umurnya 5 tahun. Dialah saudaraku yang terkecil. Kini dia sekolah di TK yang letaknya berdekatan dengan sekolah Zaenal. Dia masih belum berani berangkat sendiri, masih harus diantar dan ditunggu oleh ibu. Tapi walaupun masih kecil kini dia sudah bisa bersepeda. Awalnya,ketika ada nasabah Bank Sampah Edelweiss yang menyetor 'sampah' sepeda bekas. Aldi langsung naik ke sadel sepeda kecil dengan roda tambahan itu dan tidak mau turun. Lalu bapakmu meminta ke nasabah itu "sepedanya untuk anak saya saja ya bu?". Dan Ibu yang bekerja di kelurahan itu pun mengiyakan. Aldi merasa senang, dan semenjak itu dia belajar naik sepeda. Awalnya dengan roda tambahan, sekarang roda tambahan itu sudah dilepas. Kini dia berangkat ke TK bersepeda, walau masih harus ditemani ibu. Sepulang sekolah dia ganti baju dan kembali bermain sepeda dengan Arif,anak tetanggaku yang rumahnya di depan rumah kami. Bahkan Aldi sering lupa waktu kalau sudah bermain sepeda. Ya, masa kecil adalah masa yang paling menyenangkan untuk bermain. Orang tuaku kadang mengeluh karena kelakuan Aldi itu, kalau aku senang-senang saja melihatnya. Lebih baik dia aktif bermain dengan teman-temannya. Apalagi bersepeda bisa bermanfaat juga untuk kesehatannya. Walau kadang dia belum mengerti waktu. Di siang bolong masih saja bersepeda sampai kulitnya kini kehitaman dan rambutnya kemerahan. Tapi daripada waktunya dihabiskan berdiam diri di depan layar TV, aku lebih senang melihatnya bersepeda.
Aldi

Aku senang adik-adikku kini bersepeda. Paling tidak sepeda-sepeda itu masih bisa bermanfaat dan berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau sepeda bisa bicara, pasti sepeda-sepeda itu merasa senang dan mengucapkan "terima kasih" karena masih digunakan. Dan aku pun juga tak kan lupa mengucapkan "terima kasih" pada sepeda-sepeda itu. Karena dengan adanya mereka,kami bisa kemana-mana dengan mudah. Ke tempat kerja, ke sekolah, ke masjid, ke warung, dan bermain-main dengan sepeda.
Kami tak lupa bersyukur kepada Yang Maha Pencipta segala benda. Sehingga benda mati itu bisa berfungsi dan bermanfaat untuk kami. Dan alhamdulillah kami diberi kesempatan untuk memilikinya dan memanfaatkannya di kehidupan ini.
Bahagia itu sederhana.


Pagi 06/06/15