28 Februari 2016

Perempuan Desa


Sebuah cerpen sederhana.                  
 "I don't think art when i'm writing, I just try to think about humanity" (Isma Swastiningrum)
  
Perempuan Desa
    
Matahari pagi yang cerah menyinari sebuah desa di pinggiran kota Solo. Desa yang kini berubah menjadi kawasan industri. Desa itu menjadi bagian dari Kabupaten Karanganyar,walau letaknya jauh dari pusat pemerintahan Karanganyar. Beberapa tahun ini sawah-sawah mulai berubah menjadi pabrik-pabrik. Memang dengan perubahan itu bisa menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di sekitarnya. Tapi sebuah perubahan pastinya akan menimbulkan perubahan lainnya. Sebuah dampak perubahan entah positif atau negatif pasti ada. Masyarakat yang dulunya bertani, kini berubah menjadi pekerja pabrik. Mereka yang dulunya produktif menghasilkan pangan, kini berubah menjadi konsumtif. Mini market-mini market kini hadir di sekitar desa itu,menggeser warung-warung kecil yang sudah puluhan tahun berjualan.

Masih ada dampak-dampak lainnya. Polusi udara, bau yang ditimbulkan dari pabrik rokok. Sungai-sungai juga mulai tercemar limbah dari pabrik. Kemacetan mulai merayapi jalan, terutama pagi dan sore. Semakin padatnya pemukiman juga membuat masyarakat semakin tidak peduli terhadap lingkungan. Membuang sampah sembarangan kini mulai jadi kebiasaan. Kurangnya  perhatian pemerintah untuk menyediakan tempat sampah bagi warga masyarakat juga menjadi penyebab hal itu terjadi. Dampak sosial, pergaulan kini mulai semakin bebas dengan banyaknya kos-kosan. Bahkan akhir-akhir ini ada beberapa kasus penggrebekan dari pihak kepolisian di kos-kosan. Ada beberapa pasangan mesum dan pengguna narkotika yang tertangkap. Sungguh miris melihat perkembangan desa lebih banyak kenegatifannya.
    
Di desa itu rata-rata gadis remaja lulusan SMA sudah bekerja, terutama di pabrik rokok. Salah satunya adalah Dwi, gadis pendiam yang lahir dan besar di desa itu. Pagi hari dia mulai mengayuh sepedanya menuju pabrik tempatnya bekerja. Hembusan angin sesekali mengibaskan jilbabnya. Bibirnya selalu rapat,dia memang gadis yang jarang tersenyum. Tapi dia selalu bersemangat menjalani hari-harinya. Dwi adalah anak pertama  dari tiga bersaudara. Dua adik laki-lakinya masih sekolah, SMA dan SMP. Karena itu dia rajin bekerja untuk membantu kedua orang tuanya yang hanya seorang petani. Dwi lulus SMA 2 tahun lalu dan langsung bekerja di pabrik rokok yang tak jauh dari rumahnya. Sekarang umurnya baru 20 tahun dan hari-harinya hanya soal bekerja dan mengurus rumah membantu keluarga. Bahkan sesekali membantu orangtuanya di sawah. Keluarganya beruntung karena masih memiliki beberapa petak sawah yang mereka garap sendiri dan beberapa ekor ternak sapi.

 Jika hari sabtu dia berangkat kerja dengan hati yang lebih gembira dari hari-hari biasanya, karena akan menerima gaji. Paling tidak dia bisa membelikan gula dan teh dari uang gajinya itu untuk orang tuanya. Bapaknya yang suka minum teh itu pasti akan senang. Kadang di malam minggu, teman kerjanya yang bernama Ari datang ke rumahnya. Belum lama mereka pacaran. Dwi yang pendiam tidak pernah mau diajak main keluar. Dia lebih suka pacaran di rumah, duduk di ruang tamu ditemani teh hangat dan camilan yang dibelinya di warung dekat rumahnya. Sesekali ibu  Dwi ikut menemani mereka ngobrol. Setelah beberapa bulan  mereka pacaran, Ari merasa tidak betah dengan sikap konservatif Dwi ini. Hubungan mereka pun tidak bertahan lama. Dan Dwi pun menjalani hari-harinya seperti biasa. Berangkat kerja setiap pagi, sore hari membantu ibunya mengurus rumah. Rutinitas hidup perempuan desa.

Suatu pagi, ketika Dwi siap mengayuh sepedanya keluar dari halaman rumahnya, seorang tetangganya menyapanya. Laki-laki dengan tubuh tegap dan kulitnya yang hitam tersenyum ramah padanya. Namanya Eko, umurnya 26 tahun. Dia adalah tetangga Dwi yang pulang merantau dari Jakarta, bekerja sebagai kuli bangunan disana. Dan kini dia menganggur di kampung. Dwi membalas sapaan Eko dengan ramah.
   
Ternyata hampir setiap hari Eko memperhatikan Dwi. Sedangkan Dwi tidak menganggapnya sebagai hal yang serius. Beberapa bulan kemudian Eko memberanikan diri melamar Dwi. Bersama orang tua dan pamannya dia pun menemui keluarga Dwi. Hal seperti ini sudah terbiasa terjadi di kampung. Orang tua Dwi pun menyerahkan semuanya kepada Dwi, mau atau tidak menerima lamaran itu. Dwi meminta waktu beberapa hari untuk memikirkan keputusan yang akan dia ambil. Bapaknya selalu membujuk Dwi untuk menerima lamaran itu. Eko memang terkenal sebagai laki-laki yang baik di kampung. Dia rajin dan baik, tapi memang nasib sedang tidak berpihak padanya karena dia sedang tidak mempunyai pekerjaan saat itu. Ibu Dwi selalu mengingatkan, gadis seusiamu itu sudah saatnya menikah nduk.
 
Memang dalam masyarakat desa, gadis usia 20an tahun sudah wajar menikah. Atas bujukan-bujukan orangtuanya itulah Dwi mau menerima lamaran Eko. Dia juga berpikir, tak ada ruginya menikah dengan laki-laki sebaik Eko. Walaupun sekarang dia sedang menganggur, tapi nanti Tuhan pasti akan memberinya jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya mereka berdua pun menikah dengan cara yang sederhana. Senyum pasangan pengantin baru itu pun terkembang setelah akad nikah, menerima ucapan selamat dari keluarga dekat mereka. Memang jodoh kadang bukan soal cinta. Garis takdir tak bisa ditebak. Kita tak pernah tahu apa yang akan kita hadapi esok hari. Sekali pun kita sudah merencanakan apa yang akan kita lakukan di masa depan. Kadang  kita hanya perlu mengalir mengikuti skenario Sang Dalang.

Setelah beberapa bulan menikah Dwi mengandung. Sedangkan Eko yang masih bekerja serabutan di desa mulai bingung memikirkan biaya-biaya untuk periksa kehamilan yang harus rutin dilakukan. Dan juga biaya melahirkan yang harus segera ia siapkan.
Malam merambat, hanya menyisakan suara serangga dari kebun belakang rumah mereka.  Pasangan itu duduk bersandar dipan kayu di kamarnya. Eko mengutarakan pikirannya ke
Dwi, dan meminta ijin untuk bekerja ikut temannya merantau.
“Dik, gimana kalau mas merantau untuk bekerja ikut Anwar teman mas ?”
Dwi menatap wajah gelisah suaminya,
“Mau merantau kemana mas ? Kerja apa ?”
“Ke Papua dik, kerja proyek bangunan, disana bayarannya besar, biar aku bisa ngumpulin duit untuk biaya melahirkan nanti.”
“Terus pulangnya kapan mas kalau kerja disana ?”
“Sampai proyeknya selesai dik, kira-kira
satu setengah tahun kata Anwar, nanti biaya transoprtasinya ditanggung bosnya.”
Dwi berpaling dari wajah suaminya, menatap kosong ke depan.
“Jadi nanti kalau aku melahirkan mas belum bisa pulang ?”
“Sepertinya belum dik, kenapa?” Eko menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan istrinya.
Hening, suara serangga malam menjelma menjadi orkestra kesedihan.
“Dwi pengen mas tetap di rumah saja.”
“Kenapa dik ?” Eko tampak bingung.
“Dwi cuma pengen melewati proses kehamilan ini bersama-sama  sampai Dwi melahirkan nanti mas. Jangan takut soal duit mas, Allah sudah mengatur rezeki setiap hambanya. Asal mas mau terus berusaha disini, kerja serabutan apapun gak apa-apa mas. Yen gelem obah mesti mamah. Bukankah kebahagiaan orang menikah itu ketika dikaruniai kehamilan dan menunggu anaknya lahir ? Dwi cuma pengen kebahagiaan sederhana itu mas. Pengen merasakannya bersama-sama.” Dwi tak kuat membendung air matanya.

“Tapi gimana biaya melahirkan nanti dik ?”
“Aku akan tetap bekerja selama hamil mas.” Dwi meyakinkan Eko.
“Mas juga bisa mencari pekerjaan sebagai kuli bangunan disini saja sambil bantuin bapak menggarap sawah, jangan jauh-jauh ke pulau seberang sana. ” pinta Dwi pada suaminya.

Eko bergeser dari tempat duduknya mendekat ke Dwi. Dia peluk istrinya erat.
Malam semakin larut. Kokok ayam jantan sesekali terdengar, mungkin melihat malaikat turun mencari manusia-manusia yang terjaga ingin bersujud padaNYA dibawah tirai malam.

Semua orang ingin hidupnya berkecukupan. Dan setiap orang mempunyai standar sendiri-sendiri tentang arti kecukupan. Begitupun dengan kebahagiaan. Semua orang ingin bahagia, dan setiap orang memiliki pengartian masing-masing tentang kebahagiaan. Di dalam hati Eko bersyukur mendapatkan istri seperti Dwi. Perempuan sederhana yang tidak menuntutnya banyak hal, terutama dalam hal materi. Dwi mau diajak tinggal di rumah orang tua Eko yang masih berdinding kayu dan anyaman bambu.
Eko membatalkan niatnya untuk pergi merantau. Dia sudah menentukan pilihan,meski resikonya dia harus lebih giat membanting tulang untuk membiayai keluarganya. Dwi pun masih rajin bekerja di pabrik meskipun dia sedang hamil. Sesekali mengeluh itu sudah kodrat manusia. Tapi semangat hidup terpancar dari wajah mereka. Wajah-wajah
manusia desa yang bergelut dengan kerasnya hidup. Wajah-wajah dengan kebahagiaan yang sederhana.

(2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung. Mari budayakan berkomentar :)