29 Februari 2016

Sajak Masyarakat dan Buku


 toko buku 


Ribuan pengetahuan diperjual-belikan layaknya jajanan
Setidaknya untuk puan dan tuan berkantong tebal
Sedang untuk kaum marjinal, bisa mengisi perut pun sudah lumayan
Apa guna bacaan? 
Bagi sebagian, lebih baik mengejar gengsi laju peradaban

Ah, semoga semakin banyak ruang-ruang bacaan
dan semakin banyak tangan-tangan gerilyawan
yang sudi membagi cahaya pada kami, kaum marjinal
kiranya kami bisa belajar menjadi manusia seutuhnya
beri kami cahaya pencerahan


Bagaimana kami mau mengembangkan minat baca? Sedang perut kami saja masih belum bertemu makanannya.
Bagaimana kami mau menyuruh anak kami rajin membaca? Sedang kami bukan contoh yang melakukannya. Kami sudah lelah sepulang kerja. Anak kami bermain bersama teman-temannya di jalan.
Kalian pikir kami orangtua yang tidak bisa mendidik anak?
Kalian pikir kami tidak peduli pada masa depan anak?
Apa kami salah? Toh kami bekerja untuk membiayai hidupnya, pendidikannya juga.
Itu semua pun kami menggali lubang tutup lubang.
Rumah pun kami belum punya. Ingin membangun rumah, mana ada uang. Sedang cicilan motor pun belum terselesaikan.
Entah pendidikan macam apa yang diajarkan negara pada anak kami.
Kami terima saja itu semua.
Kami orangtua ingin juga anak kami suka membaca, tapi kami tak tahu bagaimana caranya.
Kalian para cendikia dan intelektual muda.
Bukankah tugas kalian untuk menyebarkan cahaya?
Ya, memang itu tugas kita semua sebagai manusia.
Tapi setidaknya, kalianlah yang seharusnya terus menyalakan api.
Kami orangtua, sudah cukup lelah untuk memikirkan sandang, pangan, dan papan kami di negeri ini.
Bantulah kami mencerdaskan anak-anak kami.
Jika kalian sebut kami orangtua yang tak berpendidikan.
Lantas apa kalian lebih berpendidikan? Jika kalian merendahkan orang yang tidak berpendidikan.

Kami berharap, kita tidak hanya saling mementingkan kehidupan kita sendiri-sendiri.
Dan mari hidup saling membagi cahaya, saling membagi terang, dan terus nyalakan api.


SB
00.47
29/Feb/2016

2 komentar:

  1. Bait "Bagaimana kami mau mengembangkan minat baca? Sedang perut kami saja masih belum bertemu makanannya" serasa memukul saya. Tesis Marx memang benar: basis dari segala sesuatu adalah ekonomi. Jika basis ini gak ada masalah, suprastruktur semisal pendidikan, membaca, dll akan meningkat. Dan masyarakat kita masih utak utek di basis. Sepertinya butuh pemberdaya ekonomi lebih banyak mas..

    BalasHapus
  2. iya is, saya tidak mengerti tentang Marx, tapi dari melihat kenyataan hidup di sekitaran saya, yang dipikirkan masyarakat kita masih soal perut.
    Dulu di konser Navicula Beli Robi pernah bilang, "di negara kita ini masalah utamanya soal makan, kalo makanan kita sudah tercukupi, dan kita bisa sehat(jasmani&rohani pastinya),baru kita bisa bicara soal agama, kalo kita sudah bisa menjalankan agama dengan baik, baru kita bisa bicara politik"
    Nah,yg terjadi di negara kita orang yg belum tentu sehat jasmani/rohani,menjalankan agama jg belum baik(mngkin baik dr kacamatanya sendiri) sudah pd terjun ke politik, rusaklah negara kita.

    Iya, gak bisa dipungkiri, ekonomi memang tumpuan utama. Tapi beruntung juga kita tinggal di Indonesia, masyarakatnya bisa mudah berbahagia dengan hal2 sederhana, meski ekonominya morak-marik,,hehe

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung. Mari budayakan berkomentar :)